The Jenggots

Selamat Datang di Blog Jenggot 1 a.k.a Abu Jihad a.k.a Ibnu Sya'ban

Jumat, 08 April 2011

Habis Punk Terbitlah Islam


Sekitar 7 tahun lalu tepatnya di dalam tahun 1999, aku yang duduk di bangku kelas dua SMP sering mendengarkan lagu lagu Keparat (salah satu group band underground) di kamarku. Kadang juga Jeruji, Sendal Jepit, T.U.T.A.B, Holocaust, sampai The Exploited yang merupakan pelopor rambut Mohawk.
Kala itu orang tuaku memaklumi kalau aku doyan nongkrong di depan radio butut kakakku sambil ngapalin teks lagu lagu berbahasa Inggris. Bahkan orang tuaku terkadang tertawa, karena aku yang belum fasih berbahasa Inggris menyanyikan lirik lagu yang kudengarkan asal asalan. Waktu terus berjalan kemudian lagu lagu itu hilang dari ingatanku.
Jadi punker sejati (PUNK = salah satu komunitas anak band yang cirri khasnya ada pada rambut yang seperti topi romawi).
               Menginjak umur 16 tahun aku masuk salah satu SMA di Garut. Di SMA inilah, romantisme musik punk rock ketika aku SMP teringat kembali. Aku kembali menjadi fanatic terhadap musik musik Underground. Aku mulai berusaha memahami dunia Hard Core, Punk Rock, Oi!, Thrash, Black Metal, Skinhead, Melodicore, Straight Edge, Crustcore, Grunge, Grincore, dll, dan aku juga mulai melakukan perburuan toko toko underground juga informasi informasi mengenai life style serta subculture underground yang jadi panutanku di seantero kota Garut & Bandung. Berbagai isu dan ide politik kaum punk mengisi jiwaku. Propaganda yang disuarakan artis artis Underground luar mengenai isu isu keadilan, kebebasan, revolusi, penentangan atas kapitalisme global, anti copyright, anarki, sindikalisme, dan lain lain adalah sarapanku. Isu isu yang bertabrakan langsung dengan budaya masyarakat inii menyebabkanku menjadi salah seorang pemberontak di sekolah, dan akhirnya pernah di bawa ke ruang BP akibat gaya rambut Punkku yang dibawa kesekolah. Ideology berpikirku penuh dengan ideology kaum Punk. Dua tahun aku duduk di SMA membuat ketertarikanku akan scene Underground semakin membesar. Jiwa pemberontak dalam diriku semakin menguat ketika aku mengetahui jelas penyebab terjadinya kebobrokan di negeri ini. Untuk mengisi kekosongan selama waktu waktu kosong pulang sekolah, bersama teman aku membentuk  sebuah band punk dan menjadi Drumer di dalamnya. Selain itu, teman temanku sebagian hobi dengan yang namanya Singa Jengke, Topi Nyengled, Intisari Nekat, Tiga Drum yang merupakan minuman beralkohol. Bahkan ada sebagian temanku ada yang tak bisa lepas darinya. Saking gilanya, pernah group bandku pesta pora untuk sekadar memarkirkan alcohol di dalam perutnya. Tapi meskipun demikian aku tidak pernah larut dari apa yang dialami temanku dulu Aku dan kawan kawanku sempat membuat sebuah komunitas PUNK di daerahku sendiri, sehingga masyarakat sekitar merasa gundah dengan kehadiran group bandku. Caturwulan ke 1 di kelas dua SMA Negeri Garut, waktu itu aku dikenal dengan keaktifisannya dii dunia Underground. Ini untuk menghapuskan pandangan sinis bahwa Punk itu ‘Kuulen’. Punk itu the lost Generation. Terbukti temanku dalam group band membuat sebuah usaha emblem. Tekadku ini terinspirasi oleh Toro yang merupakan vokalis punk yang mempunyai wibawa di hadapan teman temannya. Dan benar saja masa masa kelas dua SMA ini bermain band pun mulai bertambah komposisinya.

Jadi Islam Underground
Awal kesadaranku datang disaat aku dan kawan se- bandku mulai ngetop. Suatu hari ketika aku melewati sebuah rumah, yang di rumah itu terdengar ceramah seorang ustadz, berteriak lantang tentang ‘Hidup Ini Singkat’, hingga

menembus kupingku bahwa ia sungguh PD sekalii melantangkannya. Ia meneriakkan lagi bahwa ‘Demi Alloh setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan’ kemudian ‘jangan sampai ada detik yang tersiakan’, banyak lagi segala macam yang memerahkan telingaku dan menembus hatiku. Beberapa hari kemudian , tak sengaja di salah satu pesantren di daerahku aku melihat gambar / foto ustadz yang ternyata ialah yang kemarin saya dengar ceramahnya. Tadinya aku males untuk ingin mengetahui tentang ustadz itu. Tapi berhubung salah seorang teman sedaerahku mengajak untuk mengikuti pengajian bersama ustadz itu akhirnya aku ikut juga. Aku ingin melarikan diri dari permasalahan. Akhirnya bersama salah seorang teman pria aku mengikuti acara tersebut meskipun aku tetap bergaya Underground. Di sinilah pemahamanku berangsur angsur mulai berubah. Ketika harus keluar dari lingkungan acara pesantren apalagi ketika harus kembali ke Garut kami merasa dunia diputarbalikkan. Semua ibarat dalam neraka. Semuanya serba salah. Lihat yang buruk sedikit, pasti gemes dan pengen ngomentarin. Perubahanku menjadi bahan celaan dan bahan ejekan. Bahkan ada yang membuatnya jadi bahan taruhan; berapa lama aku bertahan, 2 minggu, 1 bulan dan 3 bulan. Parahnya tidak ada yang bilang 1 tahun. Diserang berbagai gunjingan malah membuat hatiku semakin kuat.
            Aku jadi ingin menunjukkan bahwa aku memang kuat. Hanya saja untuk aktivitas ngeband aku kesulitan untuk  meninggalkannya. Saat itu komunitas underground makin kuat dan eksis pemberitaan di berbagai majalah dan MTV.

Bahkan orang luar Garut pun udah mulai merekrut band band local Garut untuk ikut serta dalam pembuatan album kompilasi. Namun demikian perasaan bersalah selalu menggangguku.
             Ibarat orang munafik, di satu sisi aku melakukan kebaikan. Tapi di sisi lain aku masih asyik berkubang dosa (bermain band). Bandku sempat mendapat prestasi dari teman teman Underground. Ini berupa anugrah. Tapi di sisi lain, pemikiran pemikiran Islamku mulai terbentuk. Dan inii menjadi dilema tersendiri. Awall memikirkan dilemma itu terasa menyakitkan. Kawan kawan dii sekolahku menyingkir satu persatu. Mereka mencapku radikal. Karena terlalu banyak ngomong halal haram. Bukan saja mereka, teman teman SMA dan band mulai canggung pada
ku. Dan yang paling menyesakkan adalah ketika orang tuaku malah mengekang kegiatan pengajian yang kulakukan, mereka terlalu kaget melihat perubahan. Dii benak orang tua dan keluargaku mulai muncul kecurigaan negative. Dari cap fundamentalis, sampai tuduhan aku mengikuti ajaran sesat.
           Hikmah dari peristiwa itu sangat besar. Aku menjadi sadar bahwa ilmu keislamanku harus diperdalam sebab kalau tidak demikian, bagaimana bisa aku menjelaskan pada keluargaku ? dari kesadaran itulah aku berazzam untuk meninggalkan semua kebiasaan lama yang negative. Dan saat itu pula aku memutuskan keluar dari band dan Style Underground yang membesarkan diriku di waktu lalu. Saat ini sudah kurang lebih 5 tahun aku mengaji Islam. Ada kerin
duan mendalam untuk tetap bisa dekat seperti dulu dengan teman teman underground sebab ikatan dengan mereka begitu kuat. Oleh sebab itulah, aku mulai menyadarkan kawan kawan yang masih berada dalam underground. Bentuknya dengan membuat sub culture Islam atau dapat dikatakan contra-culture yang secara fisik hampir seperti scene underground namun secara pemikiran jauh berbeda.
           Cara inilah yang aku gunakan utk mempropagandkan bahwa Islam merupakan ajaran revolusioner terbaik yang diturunkan Pemilik Semesta Untuk Umat Manusia. Cara inilah yang aku lakukan demi menebus dosa masa laluku. Ya Alloh aku bertobat padamu.

   
Tulisan ini selesai malam, 28 Maret 2006 pukul : 20:28
Oleh Seorang Hamba yang butuh kepada Robbnya
Semoga apa yang saya kerjakan ini sebagai amalan sholih di sisi Alloh  


Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh team 
Redaksi majalah Permata yg telah memberi inspiras kepada saya ( edisi 20 tahun VIII)
Karena Tulisan Pengkhianat Yang Telah Musnah di sna. mirip sekali dengan Perjalanan Spiritual saya
JazakaLLoh Khoir PYTM. salam ukhuwah dari saya